Catur Media - Caturharjo Jum'at Wage (26/6/2026) Bulan Suro dalam penanggalan Jawa selalu memiliki makna yang istimewa bagi masyarakat Jawa. Selain dikenal sebagai bulan yang sakral dan penuh nilai spiritual, bulan Suro juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak doa, serta memanjatkan harapan akan keselamatan dan keberkahan hidup di masa mendatang. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga saat ini adalah "Genduri Suran", sebuah tradisi doa bersama dan kenduri yang sarat makna kebersamaan.
Pada Kamis Pon, 25 Juni 2026, yang bertepatan dengan "10 Suro / 10 Muharram 1448 Hijriah", masyarakat RT 001 Padukuhan Gumulan, Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul** kembali melaksanakan kegiatan "Genduri Suran" dengan penuh khidmat dan rasa syukur. Kegiatan ini dihadiri oleh warga dari berbagai kalangan, mulai dari sesepuh kampung, tokoh masyarakat, pemuda, hingga keluarga-keluarga yang turut hadir membawa berbagai hidangan sebagai wujud partisipasi dan kebersamaan.
Acara dimulai dengan berkumpulnya warga di lokasi yang telah disepakati bersama. Suasana hangat dan penuh keakraban begitu terasa saat warga saling menyapa, berbincang, dan menata sajian kenduri yang dibawa dari rumah masing-masing. Aneka makanan tradisional, nasi berkat, lauk-pauk, jajanan pasar, hingga tumpeng tersaji sebagai simbol rasa syukur atas limpahan rezeki dan nikmat kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan sambutan dari tokoh masyarakat setempat yang menyampaikan pentingnya menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa Genduri Suran bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat gotong royong, dan menumbuhkan rasa peduli antarwarga.
Puncak acara diisi dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk memohon keselamatan, kesehatan, kelancaran rezeki, serta perlindungan bagi seluruh warga RT 001 Gumulan. Selain itu, doa juga ditujukan bagi para leluhur yang telah mendahului, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan warisan nilai-nilai kehidupan yang mereka tinggalkan. Dalam suasana yang khusyuk, setiap warga larut dalam doa dan harapan agar kehidupan ke depan senantiasa diberi kemudahan dan keberkahan.
Tradisi Genduri Suran juga memiliki nilai sejarah yang mendalam. Dalam budaya Jawa, bulan Suro sering dimaknai sebagai waktu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, membersihkan hati, serta memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat. Sementara dalam kalender Islam, bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan, menjadikan momentum ini semakin sarat dengan makna spiritual dan religius.
Usai doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama dan pembagian berkat. Momen ini menjadi bagian yang paling hangat, karena seluruh warga duduk bersama tanpa sekat, menikmati hidangan sambil bercengkerama. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan utama kehidupan bermasyarakat di pedesaan—nilai yang mungkin tampak sederhana, tetapi sangat berharga untuk menjaga kerukunan.
![]() |
| Genduri Suran Padukuhan Gumulan 2026 |
![]() |
| Genduri Suran Padukuhan Gumulan 2026 |
![]() |
| Genduri Suran Padukuhan Gumulan 2026 |
Pelaksanaan Genduri Suran tahun ini menjadi bukti bahwa tradisi warisan leluhur masih hidup dan terus dijaga oleh generasi sekarang. Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, kegiatan semacam ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal adalah identitas yang tidak boleh hilang. Tradisi bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus memberi makna bagi kehidupan masa kini.
Baca juga Warga Gumulan Melaksanakan Tirakatan Malam 1 Suro
Semoga melalui pelaksanaan "Genduri Suran 10 Suro 1448 H", masyarakat RT 001 Gumulan senantiasa diberi keselamatan, dijauhkan dari segala mara bahaya, dilimpahi rezeki yang berkah, serta terus hidup dalam suasana rukun, damai, dan penuh persaudaraan. Semoga tradisi luhur ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.



0 Komentar